Hendaklah Engkau Tetap Berpegang Pada Kebenaran

0 komentar
Selasa, 30 Oktober 2017
2 Tim 3:1-17
“Hendaklah Engkau Tetap Berpegang Pada Kebenaran”
“Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu.” (2 Tim 3:14)
Bangunan yang kokoh tentunya akan bertahan utuh ketika di hantam gempa sekalipun itu gempa yang maha dasyat, karena dasarnya sudah tentu kuat. Sebaliknya akan berdeda ketika suatu bangunan yang dibangun dengan dasar yang rapuh, dihantam gempa, walaupun dalam skala kecil akan mudah hancur. Dalam pasal 3 secara keseluruhan dari  surat  2 Timotius, ada dua hal penting  yang hendak disoroti oleh Rasul Paulus  : Moralitas manusia akhir zaman (2-4) dan spiritualitas yang kabur (5).
Akhir zaman adalah suatu masa yang akan ditandai dengan orang-orang yang menjadi hamba uang, hidup dalam kesombongan, suka memfitna alias senang bergosip, kehancuran rumah tangga akibat  kasih mulai memudar dan budi pekerti yang meluntur diterpa zaman, tidak suka berbuat baik, saling berhianat (balas-membalas kejahatan) serta  berlagak tau (menganggap diri hebat, dan orang lain tak ada apa-apanya). Secara lahiria, Orang senang beribadah tetapi sayangnya kebanyakan hanya  sebagai formalitas dan rutinitas bukan karena kebutuhan, sehingga sulit juga dibedakan sifat dan karaker Umat Tuhan dan tidak sebab, tidak jauh berbeda kelakuan dan sifatnya, alias sama saja.
Di mana posisi umat Tuhan saat ini? Apakah dari uraian tadi kita termasuk salah satu dan bagian  dari kondisi itu? Firman hari ini mengajak kita kembali memeriksa keadaan iman dan praktik hidup baik kemarin, sekarang  bahkan yang akan kita jalani.  Frasa kalimat “hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran” (ay 14), menjadi  ajakan bagi kita untuk mengokohkan kembali bangunan rohani kita dalam perjalanan bersama hari ini dan di tengah-tengah kemajuan zaman yang terus melaju pesat tetapi dapat juga menjadi ancaman. Sebab itu bagi Paulus, realitas zaman boleh menzaman tetapi tidak akan mengubah kualitas  iman dalam praktik hidup umat Tuhan .karena itu, memilih  berlabuh dalam pengajaran akan Firman-Nya, akan menjadi sumber hikmat dan kebenaran yang mengokohkan. Amin. (FJT)

Read More »

Melayakkan Diri Sebagai Pemberita Injil

0 komentar
Senin, 29 Oktober 2017
2 Timotius 2:14-26
Melayakkan Diri Sebagai Pemberita Injil
“Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu”(2 Tim. 2:15)
Seseorang menjadi layak pada dasarnya hanya karna pekerjaan Allah atau dengan kata lain “orang yang mengaku sebagai orang benar karena sudah dibenarkan oleh Allah”. Manusia yang awalnya tidak layak oleh karena dosa, kini dilayakkan oleh Allah melalui pengorbanan Anak-Nya Yesus Kristus di kayu salib. Karena itu, ketika seseorang datang kepada Allah dan berjuang untuk terus bertahan dalam kesucian/kekudusan hidup, itulah orang yang dapat dikatakan melayakkan dirinya agar semakin utuh/tepat sebagai pembawa kabar baik.
Secara khusus Paulus bermaksud untuk mengokohkan dasar iman dari Timotius agar ia tetap berdiri teguh dan tidak goyah. Demikian halnya Paulus meminta Timotius untuk ikut menderita sebagai seorang pekerja yang terus mengusahakan kehidupan yang layak dihadapan Allah (3). Karena Allah mengetahui siapa yang menjadi kepunyaan-Nya dan hendaklah setiap orang yang menyebut nama Tuhan meninggalkan segala kejahatan, karena Allah menetapkan mereka demi maksud yang mulia (19).
Demikian halnya Paulus menyampaikan kepada Timotius bahwa seorang hamba Kristus tidak boleh bertengkar; tetapi haruslah ia ramah, cakap mengajar, sabar dan lemah lembut. Paulus mempertimbangkan, mungkin Tuhan akan memberikan kesempatan kepada orang-orang yang belum percaya untuk bertobat dan mau belajar menggenal kebenaran.
Untuk itu dengan persoalan kehidupan yang semakin hari semakin meningkat, hendaklah seorang yang percaya kepada Kristus semakin teguh di dalam pengenalan akan Dia, penuh kelembutan dan kesabaran, juga harus menghindarkan diri dari perselisihan/pertengkaran. Kekudusan hidup haruslah terus diperjuangkan selama ada kesempatan. Hendaklah sebagai sebagai seorang murid Kristus menyadari bahwa kehadirannya di tengah-tengah dunia ini adalah dengan maksud yang mulia dari Allah; sebagai pemberita Injil dan pembawa kabar keselamatan. Amin. (Mar)


Read More »

Pengharapan yang memberi kekuatan

0 komentar
Sabtu, 28 Oktober 2017
Nas Alkitab                        : 2 Timotius 2:1-13
Judul renungan                : Pengharapan yang memberi kekuatan
Penulis                               : Pdt. Soleman Marten

Pendaritaan merupakan hal yang sebisa mungkin untuk dihindari oleh banyak orang. Ini adalah hal yang manusiawi, karena manusia tidak suka kepada penderitaan. Namun, Paulus malah mendorong timotius untuk menjadi kuat (1) dan ikut menderita (3) dalam pelayanan Pemberitaan Injil. Paulus bukan tanpa alasan mendorong Timotius untuk menderita. Dasar alasan Paulus adalh “kasih karunia Allah” di dalam Yesus Kristus (9).
Paulus memberikan beberapa gambaran kepada timotius tentang bagaimana menjadi kuat dalam penderitaan, yakni: pertama, seperti seorang prajurit yang baik, yang berjuang dengan berkomitmen penuh kepada Kristus Yesus yang memilikinya (3-4). Kedua, seperti seorang olahragawan yang bertandingg sesuai aturan main untuk memperoleh mahkota (bnd 1 kor 9:24-25). Ketiga, seperti seorang petani yang bekerja keras untuk menikmati hasilnya (6). Berjuang, bertanding, dan bekerja keras merupakan tiga hal yang dinasehatkan  Paulus kepada Timotius untuk dilakukan agar ia manjadi pembawa pesan Tuhan, yang tangguh, kokoh dan kuat.
Selain itu, Paulus menegaskan bahwa dalam segala hal yang dihadapi Timotius, Tuhan akan memberikan hikmat dan pengertian yang dibutuhkan oleh Timotius (7). Yesus Kristus telah menderita, yang kemudian menerima kemuliaan yang kekal (8). Paulus adalah bukti nyata dari  anugrah dan kekuatan Allah (8-10). Karena pewartaan Injil yang diberitakan, Paulus telah mengalami banyak penderitaan, namun dengan anugrah dan kekuatan Allah, ia sabar menanggung semua penderitaan itu. Pada bagian akhir perikop ini, paulus menguatkan Timotius dengan janji kesetiaan Tuhan yang tidak pernah berubah (11-13). Jangan takut menghadapi penderitaan karena Kristus. Jadilah kuat untuk ikut berbagi dalam penderitaan, karena pemberitaan Injil-Nya tidak akan sia-sia. Tuhan menaungi dengan kesetiaan-Nya, Imanuel.

Read More »

Nasihat untuk hidup bertekun dalam memberitakan Injil

0 komentar
Jumat, 27 Oktober
2 Timotius 1:1-18

Nasihat untuk hidup bertekun dalam memberitakan Injil
Paulus menulis teks ini pada saat ia di dalam penjara, tujuan penulisan ini adalah mengingatkan Timotius untuk terus bertekun dalam memberitakan Injil. Paulus membuka nasihatnya dengan salam, ia menyapa Timotius dengan kasih (1-2). Paulus memulai nasihatnya dengan mengucap syukur kepada Tuhan, yang telah memperkenankan ia melayani Tuhan seperti nenek moyangnya. Alasan Paulus untuk terus menasihati Timotius adalah melihat ketulusan iman Timotius yang sudah tertanam sejak kecil oleh neneknya Lois dan ibunya Eunike, karena keyakinan Paulus bahwa Timotius sungguh-sungguh beriman kepada Tuhan.
Pertama, ia dengan tegas memperingatkan kepada Timotius untuk terus mengobarkan karunia Allah yang sudah ada padanya dalam jemaat, karena Allah telah memberi roh kekuatan yang membangkitkan kepada dirinya (3-4).  Kedua, ia mengingatkan agar tidak malu untuk memberitakan Injil dan jangan putus asa menderita dalam memberitakan Injil karena Dia adalah Allah Juruslamat kita yang akan memampukan kita dalam penderitaan itu, dan Dia sendiri yang akan meyelamatkan kita (6-10). Ketiga, Paulus mengingatkan bahwa dalam memberitakan Injil jadilah contoh ajaran sehat bagi semua orang yang akan dilayani,  lakukanlah dengan kasih dan iman yang tulus.
Hal yang perlu kita pelajari sebagai umat Kristen adalah bertekunlah dalam melayani Tuhan. Kobarkanlah karunia Tuhan yang sudah diberikan kepada kita. Jangan malu menyaksikan cinta kasih Tuhan kepada semua orang. Hidup sebagai orang Kristen pada masa kini memang sulit. Apalagi sebagai agama minoritas, namun ingatlah apa yang sudah di sampaikan oleh Paulus bahwa jika kita memiliki Iman yang tulus, maka Tuhan akan memampukan kita. Selamat bertekun dalam memberitakan Injil Tuhan. Amin (HLY)

Read More »

Pengaruh Positif

0 komentar
Kamis, 26 Oktober 2017
Kisah Para Rasul 12 : 20 – 23
Pengaruh Positif
Dan pada suatu hari, Herodes dengan pakaian kerajaan, duduk di atas takhtanya, dan membuat sebuah orasi kepada rakyatnya. Dan orang-orang berseru, katanya, "Itu adalah suara tuhan dan bukan dari manusia." Dan Malaikat Tuhan segera memukulnya, karena ia tidak memberi kemuliaan Allah; dan dia mati dimakan cacing-cacing.
Seorang penjelajah wanita yang ketakutan mendekati gang sebuah kapal penumpang baru yang sangat besar, ia menatap dengan takjub ke arah kapal raksasa yang menjulangitu . "Apakah kapal ini benar-benar tidak dapat tenggelam?" Dengan gugup ia bertanya pada sebuah anak buah kapal di dekatnya.
"Ya, nona," jawab anak buah kapal itu. "Tuhan sendiri tidak akan bisa menenggelamkan kapal ini."
Semua orang begitu yakin tidak dapat tenggelam sehingga hanya membawa sekoci yang cukup untuk menampung sepertiga dari penumpangnya. Faktanya, itu tidak seperti yang diperkirakan, bahwa kapal itu tidak dapat tenggelam. 10 April pelayaran dengan 2.224 orang naik Titanic Empat hari kemudian kapal menabrak gunung es dan hanya 705 orang yang diselamatkan. 1502 orang meninggal. Kesombongan membuat kita kehilangan yang lebih besar.
Ketika seseorang mulai percaya bahwa, dia lebih penting daripada apapun atau seseorang, dia menjadi tuhan bagi dirinya sendiri. Kita semua mengenal orang seperti ini; Sudah ada diberitakan di media publik dan surat kabar. Herodes zaman sekarang mendengarkan pujian orang banyak dan mereka menjadi konsumsi public dan menjadi tenar, namun hal ini juga membuatnya tersesat dan kehilangan jalan mereka.
Apa yang terlintas dalam pikiran kita saat mendengar kata kebanggaan, Keangkuhan, Sikap acuh tak acuh, Kesombongan? Tidak ada yang salah dengan keinginan untuk diakui. Kita mungkin tidak memiliki ribuan "teman" di Facebook atau coliseum  yang penuh dengan orang, sebagaimana saat Herodes tampil, namun setiap orang memiliki seseorang yang akan mengikutinya. Herodes seharusnya memanfaatkan pengaruhnya untuk menghormati Tuhan, kita sebagai orang percaya, harus terlibat secara aktif. Menjadikan pengaruh kita sebagai sarana untuk menghormati Tuhan. Amin. (Vo)

Read More »

Dengar dan lakukan Perintah Tuhan

0 komentar
Rabu, 25 Oktober 2017.
Kisah Para Rasul  12:1-19
Dengar dan lakukan Perintah Tuhan
Penjaga, pengawal berlapis dengan penjaga super ketat di lengkapi dengan rantai belenggu, pedang pencabut nyawa. Semuanya itu tidak mampu menandingi kekuatan yang namanya “doa”. Doa yang diucapkan dengan tidak jemu-jemu dan sungguh-sungguh kepada Tuhan. Kuasa Tuhan Yesus Kristus jauh lebih kuat dari segala bentuk ancaman dan aniaya yang dialami orang percaya. Itulah pengalaman nyata jemaat pertama, khusunya Rasul Paulus.
Kesaksian Lukas (penulis kitab Kisah Para Rasul) membuktikan bahwa, empat regu pengawal masing-masing terdiri dari 4 orang (berarti jumlahnya 16 orang), 2 rantai belenggu, penjagaan berlapis, pintu besi sebagai alat kuasa Herodes tidak berdaya untuk meringkus Petrus. Petrus bebas dan selamat oleh tindakan Tuhan. Fakta lain yang terutama dan terpenting ialah sikap Petrus, yang hanya mengikuti perkataan malaikat, yang seolah mengatakan kepadanya “cepat bangun, ikat pinggangmu, pakai sepatu, pakai jubah dan “ikutlah Aku”. Ini hanya bisa terjadi karena Petrus percaya dan taat serta berserah penuh kepada kuasa Allah. Bagi kehidupan kita, kisah ini sungguh sangat bermakna. Kita belajar untuk tidak tenggelam dalam kekuatiran dan ketakutan dan putus asa, tetapi diminta untuk bangkit dan mendengar serta melakukan perintah Tuhan seperti yang dilakukan oleh Petrus. Bergerak membenahi diri, berjalan mengikuti tuntunan-Nya.
Bangunlah dan lihatlah dengan jelas apa yang Tuhan sedang adakan bagi kehidupan kita. Mengikut Kristus bukan dengan mengandalkan kekuatan, kehebatan kita atau kuasa yang lain. sebab Dia telah berjalan lebih dahulu menghancurkan segala halang rintangan yang lebih kuat. Roh Kudus memampukan untuk tetap mengikuti dan mengiringi Tuhan Yesus. Penguasa tidak mampu menghalangi kita untuk tetap menyaksikan tentang karya Kristus. Amin. (LEM)

Read More »

Jadikan Topang Menopang Sebagai Karakter kita

0 komentar
Selasa, 24 Oktober 2017
Kisah Para Rasul 11 : 19 – 30

Jadikan Topang Menopang Sebagai Karakter kita
Sebuah tekanan tidak akan melemahkan pelayanan bila jemaat menemukan dan mempertahankan kekuatan dalam karakter mereka.
Bacaan ini berbicara tentang tekanan bagi jemaat mula-mula dan bagaimana respon mereka terhadapnya. Penganiayaan terhadap Jemaat di Yerusalem, mendorong banyak saudara tersebar di daerah penginjilan (19). Hasilnya, banyak orang di Antiokhia menjadi percaya. Sebagai pusat kekristenan saat itu, Jemaat Yerusalem mengutus Barnabas untuk mengajar dan melayani Jemaat Antiokhia. Kehadiran Barnabas dan selanjutnya Paulus, telah mempercepat perkembangan Jemaat Antiokhia menjadi pusat kekristenan di luar Yerusalem (26). Melalui bimbingan mereka berdua, Jemaat Antiokhia bertumbuh dalam kepedulian dan semangat topang menopang yang tinggi. Hal itu terlihat dalam aksi pengumpulan uang sumbangan yang dilakukan untuk menopang Jemaat Yerusalem yang berada dalam bahaya kelaparan saat itu (29).
Ini menunjukkan, di tengah-tengah tekanan fisik dan mental untuk menghambat kekristenan, Jemaat-jemaat justru menemukan kekuatan untuk bertumbuh bersama. Kekuatan itu adalah semangat topang menopang diantara sesama Jemaat Tuhan. Dengan semangat topang menopang tidak ada jemaat yang dibiarkan sendiri menghadapi tekanan yang datang. Tekanan untuk sebuah Jemaat telah menjadi tanggung jawab bersama. Rupanya semangat yang demikian sangat berhasil menggagalkan berbagai tekanan yang ada.
Hal ini mengingatkan kita bahwa sehebat apapun sebuah tekanan, tidak dapat menghambat pelayanan, bila semangat topang menopang yang ditunjukkan Jemaat Tuhan lebih hebat dari tekanan itu. Karena itu, jemaat-jemaat harus menumbuhkan dan kembangkan semangat topang menopang dalam kehidupan. Jadikanlah itu sebagai sebuah karakter dan jati diri kita. Maka mata kita sendiri akan melihat sebuah gerakan pertumbuhan dan kemandirian bersama, nyata dalam jemaat-jemaat kita. Amin. (DM)

Read More »

KATA SIAPA ITU HARAM

0 komentar
Senin, 23 Oktober 2017
Kisah Para Rasul 11:1-18
“KATA SIAPA ITU HARAM?”
KH. Ahmad Mustofa Bisri atau lebih biasa dikenal sebagai Gus Mus pernah berkata, “Atheis dimusuhi, karena tidak bertuhan. Bertuhan dimusuhi, karena Tuhannya beda. Tuhannya sama dimusuhi, karena nabinya beda. Nabinya sama dimusuhi, karena alirannya beda. Alirannya sama dimusuhi, karena pendapatnya beda. Pendapatnya sama dimusuhi, karena partainya berbeda. Partainya sama dimusuhi, karena pendapatannya berbeda. Apa kamu mau hidup sendirian di muka bumi untuk memuaskan nafsu keserakahan?
Faktanya kita hidup di bumi yang berisikan keanekaragaman tumbuhan dan hewan. Termasuk juga dengan manusia, memiliki beraneka ragam suku, budaya, bahasa, warna kulit, agama, dan sifat-sifat atau karakternya. Kita tidak bisa memaksakan segala sesuatu harus sama dan sesuai dengan keinginan kita. Lalu, mengatakan bahwa setiap kebenaran yang tidak sesuai tolak ukur kita maka, kemudian kita “mengharamkan”nya (menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia: mengharamkan juga berarti à melarang; mencegah; menolak) Sehingga, tidak jarang kita menjadi eksklusif dan anti-sosial.
Dengan mudahnya kita merendahkan dan mengharamkan sesama ciptaan, hanya karena bentuk tampilannya, tutur katanya, sukunya, budayanya, agamanya, dan segala latar belakangnya. Sehingga kita menjadi cepat untuk menghakimi kebaikan dan kebenaran sesama ciptaan lainnya, seolah kita memiliki otoritas penuh, bahkan melebihi otoritas Sang Pencipta itu sendiri.
Padahal, Tuhan menjadikan seluruh ciptaan-Nya adalah baik adanya (Kej. 1:31). Jadi, sesungguhnya kita sebagai sesama ciptaan yang memiliki keunikannya masing-masing haruslah hidup rukun bersama, dan menghargai setiap perbedaan yang ada. Karena, apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau menyatakan haram! (Kis 11:9). Amin. (RRW)

Read More »

DI UTUS KE TENGAH DUNIA

0 komentar
Sabtu, 21 Oktober 2017
Kisah Para Rasul 10:23-48
 “DI UTUS KE TENGAH DUNIA”
Petrus datang ke Kaisarea untuk menjumpai Kornelius, seseorang yang dikenal saleh dari suku bangsa Yahudi (ay.2, 24). Hal ini dilakukan sesuai dengan perintah Allah melalui penglihatan kepada Kornelius (3-8) dan Pettrus (19-20). Karenanya, kedatangan Petrus disambut dengan senang hati oleh Kornelius (33).
Sesuai tradisi pada masa itu, orang Yahudi tidak dibenarkan bergaul dengan orang non Yahudi (28a). Namun Petrus sadar bahwa Allah tidak membeda-bedakan orang menurut suku bangsanya (bnd. 15b, 28b, 34). Setiap orang sama di hadapan Allah, dan Ia berkenan menjumpai dan memakai siapa pun tanpa terkecuali untuk menyatakan kehendakNya (35). Karena itu, kasih dan karunia Allah harus dinyatakan kepada semua orang dan ke seluruh dunia (bnd. 36, 42, 45).
Melalui pengalaman Petrus tersebut, kita diajak untuk belajar beberapa hal;
-   Pertama, setiap orang sama di hadapan Allah. Tidak ada yang lebih rendah atau lebih tinggi. Sebab Allah tidak membeda-bedakan orang berdasarkan suku bangsa, status sosial ataupun golongan. Sehingga penting untuk kita mengembangkan sikap hidup yang saling menghargai, menghormati, serta peduli terhadap keadaan orang lain.   
-   Kedua, dipilih untuk menyatakan damai sejahtera Allah. Semua orang percaya diutus untuk menyatakan kasih karuniaNya di tengah dunia. Siapa pun kita dan apapun kedudukan kita, kita semua di utus oleh Allah untuk memberitaka Kabar Baik tentang kasih, damai sejahtera dan keadilan bagi segenap mahluk dan alam ciptaanNya.
-   Ketiga, kasih Allah tanpa batas. Karena itu, kehadiran kita di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk ini juga harusnya menghadirkan kasih Allah yang tanpa batas itu kepada semua orang tanpa membeda-bedakan siapa pun mereka.
Mari melaksanakan tugas panggilan bersama ini dalam semangat kerbersamaan dan kesetaraan. Amin. (EV)

Read More »

ALLAH BERKARYA MELALUI ORANG-ORANG SALEH

0 komentar
Jumat, 20 Oktober 2017
Kisah Para Rasul 10:1-23a

ALLAH BERKARYA MELALUI ORANG-ORANG SALEH
          Kisah perjumpaan Kornelius dengan Petrus ini sangat menarik untuk diperhatikan, dimana kedua orang “saleh” ini dipertemukan Tuhan melalui “penglihatan”. Kornelius adalah seorang perwira pasukan Italia yang tinggal di Kaisarea. Dia adalah orang yang saleh dan juga seisi rumahnya. Kesalehan Kornelius sangat nyata lewat “sedekahnya” dan dia “rajin berdoa”. Sedang Petrus adalah murid Tuhan Yesus yang “saleh” penuh dengan kuasa Roh Kudus. Ia sedang menjalankan misi Kristus di Yope. Petrus banyak melakukan mujizat dan menyembuhkan orang-orang yang sakit. Kini Tuhan Allah “berkarya” melalui “kedua orang saleh itu”: 1. Dalam sebuah penglihatan; malaikat Tuhan datang kepada Kornelius (3-6). Setelah mendengar perintah itu Kornelius menyuruh “kedua orang hambanya dan seorang prajuritnya, dimana ketiga orang ini juga adalah orang-orang saleh.” Mereka pergi menjemput Petrus. Ketiga orang itu berangkat ke Yope dan menjumpai Petrus. Ketika mereka tiba di rumah Simon penyamak kulit itu. 2. Roh Allah berkata kepada Petrus: “Ada tiga orang mencari engkau. Bangunlah, turunlah ke bawah dan berangkatlah bersama-sama dengan mereka, jangan bimbang, sebab Aku yang menyuruh mereka kemari.” (19,20). Petrus menjumpai ketiga orang itu dan segerah berkemas mengikuti ketiga orang itu tanpa bantahan sedikitpun. Petrus menjumpai Kornelius dan disana ia menyampaikan Kabar Baik kepada banyak orang. Pada waktu itu Petrus sadar bahwa tidak ada lagi batas bergaulan antara orang Yahudi dengan orang non Yahudi. Karena sebelumnya bahwa orang Yahudi tidak boleh bertemu (bergaul) dengan orang yang bukan Yahudi karena hukumnya “haram.” (34). Sejumlah orang yang mendengar firmat Tuhan  menjadi percaya dan “dibaptis.”           
Disini Allah “berkarya melalui orang-orang saleh” seperti mereka. Melalui mereka sejumlah besar orang “diselamatkan.” Orang banyak telah mendengar Injil Yesus Kristus; percaya, bertobat dan dibaptis. Demikian pula bagi saudara saya saat pada ini. Seharusnya betapa salehnya hidup kita yang menanti-nantikan kedatangan Tuhan Yesus Kristus ke dunia ini, supaya melalui kesalehan dan pemberitaan kita orang lain diselamatkan. Tuhan Yesus memberkati saudara. Amin. (FR).

Read More »

Teladan Hidup Saulus Menjadi Paulus

0 komentar
Kamis, 19 Oktober 2017
Kisah Para Rasul 9:19b-31
Teladan Hidup Saulus Menjadi Paulus
 Akan tetapi Saulus semakin besar pengaruhnya,,,” (Kis 9 : 22)
Kehadiran seseorang dalam sebuah komunitas sering kali berpengaruh bagi anggota komunitas yang lainnya. Baik itu melalui perkataan, ide, atau pemikiran dan karakter yang dirasakan dan dilihat oleh anggota komunitas yang lain. Catatan sejarah kekristenan telah mencatat bahwa ada seorang bernama Saulus yang kehadirannya sangat ditakuti banyak orang Kristen, bahkan Saulus hadir dan menyaksikan bagaimana Stefanus dirajam batu sampai mati karena imannya kepada Yesus Kristus. Namun di sisi lain, sejarah gereja juga mencatat bahwa Saulus yang kejam telah mengalami pertobatan karena perjumpaannya secara pribadi dengan Kristus (Kis. 9:1-19a). Meskipun memang pada awalnya, Saulus hendak menangkap dan memenjarakan orang-orang Kristen pada waktu itu.
Kisah perjumpaan diri Saulus dengan Yesus Kristus di Damsyik, itulah yang menjadi titik balik kehidupan Saulus. Saulus yang berarti berkuasa/besar, tetapi karena Kristus, ia menjadi Paulus yang berarti kecil/tidak ada artinya. Saulus menyadari bahwa dirinya adalah kecil dan hina di hadapan Allah. Perjumpaannya dengan Yesus telah membukakan matanya, betapa besarnya Allah dan betapa kecil dirinya di hadapan Allah. Betapa berartinya Allah dan betapa tidak berarti dirinya. Peristiwa ini mengubah cara Saulus memandang siapa dirinya dan apa yang menjadi tujuan hidupnya.
Oleh sebab itu, pada bagian yang kita baca hari ini memperlihatkan bagaimana Paulus dengan berkobar-kobar memberikan pengaruh yang semakin besar terhadap pemberitaan Injil, serta komitmennya yang begitu berkobar-kobar atau bersemangat demi Kristus. Pengaruh yang dilakukan dari seorang Saulus telah membuat banyak orang Yahudi menjadi tercengang. Paling tidak ada dua pengaruh besar yang dikerjakan Paulus:
Pertama, memberitakan Injil. Kedua, membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias, Sang Juruselamat yang dinanti-nantikan umat manusia yang berdosa. Bagaimana dengan kita? Apakah kita telah memberikan dampak atau pengaruh melalui semangat kita mengabarkan Injil dan menyaksikan Kristus sebagai Juruselamat manusia yang berdosa?

Read More »

Menjadi Alat Pilihan Bagi Tuhan

0 komentar
Rabu, 18 Oktober 2017
Kisah Para Rasul 9::1-19a
Menjadi Alat Pilihan Bagi Tuhan

Jauh sebelum Paulus terkenal sebagai Rasul Tuhan, namanya telah terkenal dimana-mana.  Namun ketenaran Paulus saat itu adalah sebagai seorang yang sangat kejam, yang berusaha melenyapkan  para pengikut Yesus Kristus. Setiap pengikut Yesus yang tertangkap akan dipenjara, disiksa bahkan dibunuh. Waktu itu Paulus masihbernama Saulus.
Menghadapi orang yang jahat dan orang yang membenci kita terkadang bukan perkara yang mudah. Kekuatan dan kecenderungan untuk menghindar dari mereka adalah sebuah tindakan yang pada umumnya kita lakukan. Kita terkadang merasa bahwa Tuhan seakan-akan tidak memperdulikan keadaan yang kita alami.
Dari pertobatan seorang Saulus, ada 2 hal yang dapat kita petik, yaitu: 1) Dalam setiap perkara yang kita hadapi, Tuhan selalu mendukung kita (5). Perkataan Yesus “Akulah Yesus yang kau aniaya itu”, kata ini menegaskan bahwa segala penderitaan, kesusahan yang kita hadapi dan alami, Tuhan Yesus juga mengalaminya. 2) Panggilan Yesus kepada Saulus untuk menjadikan ia sebagai alat Tuhan merupakan bukti bahwa Tuhan sanggup mengubah hatiseseorang untuk berbalik dan menjadi pribadi yang baik.
Sebagai pribadi yang mengaku percaya kepada Yesus Kristus, kita tau bahwa diri kita adalah alat pilihan bagi Tuhan untuk mewartakan berita keselamatan bagi semua orang. Namun dalam realitasnya, tidak mencerminkan dirinya sebagai pengikut Kristus.
Marilah kita mengoreksi diri dan belajar dari Paulus yang meskipun dipandang hina dina dan tak layak karena berbagai keburukan dan kejahatan yang ia lakukan, namun tidak menghalanginya untuk bertobat dan berbalik menerima panggilan Tuhan. Bahkan sejak saat itu hingga akhir hayatnya, Paulus dengan sepenuh hati mengabdikan dirinya untuk terus mewartakan Injil Tuhan kepada segala suku bangsa.
Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menjadi alat pilihan yang terbaik bagi Tuhan? Sudahkah kita menjadi saksi-saksi Yesus baik dalam lingkungan keluarga, masyarakatdan di tempat kita bekerja?Jadilah alat pilihan yang terbaik bagi Yesus dan nyatakanlah Injil keselamatan kepada semua orang. Sehingga terang kasih Tuhan semakin nyata menyinari duniadan banyak orang beroleh keselamatan.  (IIP)

Read More »

Karunia Istimewa

0 komentar
Selasa, 17 Oktober  2017
Kisah Para Rasul 8:4-40
Karunia  Istimewa
Saudara yang kekasih, pernahkah kita mensyukuri  akan karunia yang Tuhan berikan bagi kita? Bakat, karunia, talenta tertentu yang istimewa tentunya berasal dari Tuhan. Sama dengan Filipus, seorang pelayan yang dipakai Tuhan Yesus dan Roh Allah selalu menyertainya. Setiap orang memiliki karunia yang berbeda-beda. Tetapi dengan karunia yang ada pada kita kita diharapkan mampu untuk menghadapi tantangan dan rintangan sesulit apapun dengan baik dengan mengandalkan kuasa Tuhan. Sehingga, setiap kesulitan-kesulitan selama pelayanan dapat diatasi dan dilewati.
Saudaraku, kehidupan kita ini adalah milik Tuhan dan jika Tuhan berkenan memakai kehidupan kita untuk melakukan sesuatu yang besar dan istimewa bagi dunia, mari kita memberikan diri kita dengan sungguh untuk mau melakukannya. Karunia Filipus didalam melayani membuat ia selalu yakin bahwa Tuntunan Roh kuduslah yang selalu menyertainya. Oleh sebab itu, dengan pengajaran dan pelayanannya banyak jiwa dimenangkan dan dibaptis menjadi pengikut Yesus. Filipus mempergunakan karunia yang ia miliki bagi pertumbuhan rohani banyak orang sehingga disepanjang kehidupannya ada banyak peristiwa yang luas biasa dialaminya. Dalam kehidupan kita pun banyak hal yang terkadang harus kita hadapi, ada permasalahan-permasalahan yang menanti kita disetiap saat.
Namun hendaknya dalam keadaan apapun kita harus yakin bahwa Tuhan akan menyertai kita dan menolong kita untuk menyelesaikan setiap permasalahan tersebut. Tuhan selalu memberikan solusi tepat pada waktunya. Mari pergunakan karunia yang ada pada kita masing-masing dengan baik, bijaksana dan positif sehingga menjadi kemuliaan bagi nama Tuhan dan berkat sukacita bagi sesama. Selamat berkarya, Tuhan Yesus memberkati. (Mrk)

Read More »

Melihat Kemuliaan Allah

0 komentar
Senin, 16 Oktober 2017
Kisah para rasul  7:54-8:1-3
Melihat Kemuliaan Allah
Di dalam kehidupan kita sehari-sehari mungkin kita pernah melihat suatu kejadian yang terjadi di depan mata kita, sesuatu yang tidak pernah kita harapkan terjadi misalnya: kecelakaan, perkelahian, bencana alam, tawuran, pembunuhan,  bahkan pemerkosaan. Kita berharap segala sesuatu yang kita lalui dalam kehidupan ini baik-baik saja, tidak ada masalah atau tidak ada keributan.
Kehidupan kita ini tidak semudah yang kita pikirkan, tidak semudah kita membalikkan telapak tangan. Tetapi di dalam kehidupan ini banyak sekali persoalan yang kita hadapi. Mungkin dalam pikiran kita, kita melihat orang lain baik-baik saja tidak ada masalah, mereka selalu terlihat bahagia, rumah tangga mereka tidak pernah ribut, tidak pernah berselisih paham tetapi pada kenyataannya mereka juga mempunyai masalah bahkan lebih berat dari permasalah yang sedang kita hadapi. Tidak ada manusia di  dunia ini yang terlepas dari masalah. Selagi dia masih hidup ditengah-tengah dunia ini ia akan terus menerus menghadapi masalah dalam kehidupannya dan masalah akan terus datang silih berganti. Mari kita melihat kembali ayat alkitab yang kita baca dalam kis 7:54-8:1-3 disana menceritakan tentang stefanus  yang mencoba menyampaikan kabar baik bahwa ia telah melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan  Allah. Tetapi apa yg terjadi?  Mereka malah menutup telinga dan melemparinya. Kalau kita hanya melihat keadaan dunia ini, Kapan kesempatan kita melihat Allah?? Jangan terlalu melihat keadaan dunia ini! Karena dunia tidak dapat memberikan apa-apa kepada kita, karena dunia tidak menjamin keselamatan kita, dan dunia tidak pernah menjanjikan sebuah kepastian. Dunia hanya bisa membuat kita kecewa, menangis bahkan marah. Tetapi hanya satu yang pasti yaitu Allah kita. Allah kita menjadi manusia tanpa berhenti menjadi Allah bagi kita.
Lalu pertanyaannya: apakah  artinya bagi kita bahaw firman itu telah menjadi manusia? “kita telah melihat kemuliaan-Nya yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai anak Tunggal Bapa penuh kasih karunia dan kebenaran.” Itu berarti bahaw dalam Yesus Kristus kita dapat melihat kemuliaan Allah, dan itu berarti bahwa kemuliaan Allah yang dinyatakan dalam  Yesus tidak membinasakan kita  karena dosa kita. Sebaliknya, Dia penuh kasih karunia dan kebenaran. Pandanglah Dia dalam kemuliaan-Nya, dan hiduplah. Amin. (Drl)

Read More »

Serahkan segenap hidup kepada Tuhan

0 komentar
Sabtu, 14 Oktober 2017
Nas Alkitab                         : Kisah Para Rasul 7:1-53
Judul renungan                  : Serahkan segenap hidup kepada Tuhan
Penulis                                 : Pdt. Soleman Marten

Jemaat yang diberkati Tuhan.
Taat sampai akhir adalah kerinduan Allah kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya. Namun adakalanya manusia mengabaikan ketaatan kepada Allah saat diperhadapkan pada tantangan atau konsekuensi yang berat. Ketaatan memang harus diperjuangkan setiap hari dalam kanca kehidupan warga jemaat, sebab keinginan untuk menjadi taat selalu diperhadapkan dengan godaan untuk tidak taat. Tantangan atau konsekuensi yang berat yang dihadapi warga jemaat, sudah ada sejak zaman gereja perdana/mula-mula. Hal ini dapat dilihat dalam pengalaman hidup Stefanus.
Stefanus satu dari antara tujuh orang yang dipilih dari antara warga jemaat, tampil sebagai seorang yang tidak hanya melayani meja (diakonal), tetapi juga sebagai seorang pemberita Injil dan “apologet” yang tangguh. Stefanus sangat menguasai sejarah Keselamatan Allah dan kitab  suci dengan baik, sehingga ketika ia menyampaikan pidato pembelaan dan menjawab tuduhan dari orang Yahudi dan Mahkama Agung ia mendasarinya dari fakta-fakta Kitab Suci dan tidak ada yang dapat melawan hikmatnya. Stefanus warga jemaat ‘biasa’ telah bersaksi secara “luar biasa” karena ia penuh dengan kasih karunia dan kuasa Allah. Stefanus bersaksi sampai ia mati, seperti yang telah Yesus alami. Allah membutuhkan orang-orang ‘biasa’ yang bersedia dipakai secara luar biasa oleh Allah bagi misi-nya. Sebagai orang yang telah diselamatkan hendaknya kita rela bersaksi bagi Kristus. Jangan pernah mundur sekalipun ada harga yang harus dibayar. Jadikan Kristus sebagai teladan, sang kepala gereja yang taat sampai mati demi misi Bapa-Nya (Flp 2:8-11). Ketaatan dan kesetiaan  sampai akhir diwujudnyatakan dalam kehidupan Stefanus semakin dipertegas dan dikuatkan oleh Allah sendiri ketika Allah menampakan diri dalam kemuliaannya kepada Stefanus (54-60). Ketika seseorang memiliki ketaatan yang  yang utuh, maka sekalipun harus mengahdapi  ‘kematian’, ia pasti akan tetap mendapatkan kekuatan menjalainya, bahkan ia dapat mengampuni orang yang menganiayanya.
Tantangan iman apa yang sedang kita hadapi sat ini? adakah kita tetap setia dan taat kepada Allah, atau sudah mulai mundur karena melihat terlalu besar tantangan dan konsekuensi yang harus dihadapi? Ingatlah bahwa Allah senantiasa menyatakan kehadiratn-Nya kepada kita dalam segala tantanggan iman. Tetaplah taat dan setia, sekalipun teramat banyak tantangan yang harus dihadapi. Tetap bersandar dan bergantung kepada Allah. Serahkanlah seluruh hidup kepada Tuhan, agar kita dimampikan untuk melewati tantangan iman dengan kemenanggan. Amin.

Read More »

Tugas dan Tanggung Jawab Seorang Rasul

0 komentar
Jumat, 13 Oktober
Kisah Para Rasul 6:1-15
Tugas dan Tanggung Jawab Seorang Rasul
Perikop ini menceritakan tentang kehidupan jemaat mula-mula yang dilayani/diberi pengajaran akan Injil oleh para rasul. Pada waktu itu, setiap jemaat yang mau diajar (bertekun dalam pengajaran para rasul), harus percaya dan setia mengikut Kristus disebut dengan istilah murid. Tidak hanya pada waktu itu saja, pada saat sekarang pun istilah murid masih tetap digunakan dan memang status sebagai murid ini identik dengan setiap pengikut Kristus yang mau diajar akan kebenaran sejati yaitu firman Tuhan.
Pelayanan firman dan doa tidak boleh dilakukan oleh sembarang orang, karena kedua hal tersebut berhubungan dengan keselamatan jiwa. Ini adalah pelayanan khusus dan orang-orang yang melayani di situ pun harus dikhususkan! Apakah itu menjadi penghalang bagi para rasul?. Hikmat dan kebijaksanaan yang diperoleh ketika masih bersama-sama dengan Kristus dan peristiwa pentakosta, membuat mereka menemukan solusi. Para rasul tidak boleh lalai untuk melayani kebutuhan rohani jemaat yaitu pelayanan firman dan tidak boleh berhenti, sedangkan untuk melayani kebutuhan jasmani jemaat (mengurus soal makanan) dapat dilakukan oleh orang-orang selain para rasul. Kemudian para rasul yang memutuskan untuk mengangkat 7 orang pilihan jemaat yang nantinya akan membantu mereka dalam pelayanan meja.
Pelayanan meja dalam hal ini merupakan pelayanan untuk mengurus soal-soal pembagian makanan/pelayanan jasmani terhadap jemaat yang membutuhkan. Dengan kata lain, pelayanan meja adalah pelayanan yang dilakukan dengan tujuan untuk menyediakan kebutuhan jasmani di luar dari pelayanan firman dan doa. Jadi dalam melayani Tuhan tidak hanya diperhitungkan dengan menyampaikan firman Tuhan dan berdoa. Kita juga boleh melayani Tuhan dengan menyiapkan kebutuhan jasmani. Untuk itu, melayanilah sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Ayo! sudah bertahun-tahun kita mengikuti Kristus dan sekaranglah waktunya untuk kita melakukannya. (HLY)

Read More »

Mendengar Nasehat

0 komentar
Kamis, 12 Oktober 2017.
Kisah Para Rasul  5:26-42
Mendengar Nasehat

Bagi kebanyakan orang memberi nasehat lebih mudah dari pada mendengarkan nasehat. Nasehat adalah pendapat yang disampaikan lepada seseorang atau lebih, menyangkut pandangannya tentang sesuatu yang dipersoalkan. Cara menyampaikan pendapat menjadi penting untuk diperhatikan, agar nasehat itu bisa di dengar atau di terima oleh orang yang mendengarnya. Jika nasehat disampaikan dengan cara yang salah, bisa jad nasehat itu akan sulit untuk diterima.
Ketika para rasul melaksanakan pelayanan, mereka selalu diperhadapkan dengan masalah, karena banyak orang yang tidak menyukai apa yang mereka lakukan. Dalam pembacaan hari ini, pra rasul diperhadapkan
kepada mahkama agama. Ketidaksukaan banyak orang bermura kepada kebencian yang akhirnya menimbulkan niat untuk membunuh para rasul. Dalam situasi ini Gamaliel datang dan memberikan pendapatnya.  Ia memberikan nasehat sgar mempertimbangkan baik-baik apa yang hendak mereka lakukan kepada para rasul. Dalam nasehatnya Gamaliel memberikan gambaran tentang Tadeus dan Yudas.dikatakan bahwa semua pengikutnya akan tercerai berai dengan sendirinya dan akan lenyap jika perbuatan mereka dari manusia, tetapi jika dari Allah maka kita tidak akan dapat melenyapkannya karena jangan sampai kita melawan Allah (36-39). Mendengar nasehat Gamaliel, mereka melepaskan para rasul itu.
Nasehat diberikan bertujuan untuk meluruskan atau memperbaiki hal yang salah, ketika kita memdapat nasehat sebaiknya kita terima sebagai masukan untuk kita bisa memperbaiki diri. Jangan menolak atau alergi kepada nasehat, siapapun yang memberikan nasehatitu berarti orang tersebut peduli terhadap kita. Melalui nasehat yang diberikan orang lain, percayalah bahwa Tuhan telah memakai orang tersebut untuk memperbaiki kesalahan yang kita lakukan atau kekeliruan kita selama ini. jangan memandang siapa yang memberi nasehat, tetapi peerhatikan nasehatnya, terima sebagai masukan bagi kita. Agar kita terhindar dari tindakan yang salah dan merugikan, dan menghindarkan kita dari tindakan melawan Allah. Selamat mendengar Nasehat.. Tuhan memberkati. Amin. (JLR)

Read More »

Tanda dan Mujizat

0 komentar
Rabu, 11 Oktober 2017
Kisah Para Rasul 5:12-25
Tanda dan Mujizat
Pribadi ketiga ALLAH yaitu Roh Kudus adalah Pribadi yang dijanjikan Tuhan Yesus sendiri untuk memimpin kehidupan umat, teristimewa orang-orang yang dipilih untuk melanjutkan kabar keselamatan (Injil) yang telah dipercayakan Kristus untuk manusia. Dalam hal ini terkhusus dari antara para Rasul yaitu Petrus.
Disini kita menyaksikan bahwa murid yang pernah beberapa kali dikecam Tuhan Yesus secara keras karena ketidakpercayaannya ternyata berkarya melakukan banyak muzisat & luar biasa dipakai Tuhan. Roh Kudus membaharui, melindungi, menyemangati dan memberi hikmat dalam Ia melayani Tuhan. Kita percaya bahwa bila Tuhan mau memakai siapapun yang dikehendakiNya maka apapun keadaan orang tersebut, maka ia akan sanggup merubah, meskipun melalui proses yang sulit karena tidak ada rencana Tuhan yang gagal, Ia berdaulat atas segala yang diciptakanNya sesuai dengan kehendakNya.
Dari Firman Tuhan ini kita belajar beberapa hal penting; 1). Roh Kudus adalah pembaharu dalam hidup kita, Ia mampu merubah siapapun. Bila dalam keluarga, maupun dalam persekutuan dan masyarakat kita mengharapkan semua anggota keluarga baik, maka teruslah kita berdoa minta pada Tuhan supaya Roh Kudus terus membaharui dan  memberi hikmat sehingga kita semua tetap melakukan yang benar dihadapan Tuhan. 2). Dalam pelayanan maupun dalam masyarakat, kita akan menemukan orang-orang yang tidak senang kepada yang baik, maupun menjadi penentang pelayanan, doakanlah mereka juga dan mohon kepada Tuhan supaya semangat, ketekunan & hikmat terus ditambahkan Tuhan bagi kita supaya kita juga tidak menyerah & kalah dengan keadaan itu, dan orang-orang itupun sadar dan berubah, mari terus berkarya dalam penyerahan diri dipimpin Roh Kudus karena Tuhan Yesus sanggup melindungi kita yang berserah kepadaNya, amin. (Jr)

Read More »

Bersikaplah Jujur

0 komentar
Selasa, 10 Oktober 2017
Kisah Para Rasul 5 : 1 – 11
Bersikaplah Jujur
Walaupun dibungkus rapi dengan kepura-puraan, sebuah ketidakjujuran pasti akan terbongkar bila saatnya tiba.
Bacaan ini berbicara tentang ketidakjujuran Ananias dan Safira terhadap Tuhan dan konsekwensi dibalik perbuatan itu. Penjualan sebidang tanah milik Ananias (1), tentunya harus dimengerti dalam spirit jemaat mula-mula bahwa hasil penjualan seutuhnya diserahkan sebagai persembahan di depan kaki  para Rasul, yang selanjutnya dikekola untuk kebutuhan jemaat secara bersama (Bdk. 4:32-37).
Ternyata ada praktek ketidakjujuran yang telah direkayasa oleh persekongkolan sepasang suami istri, Ananias dan Safira. Mereka sok jujur dan polos, menyerahkan uang hasil penjualan di depan kaki para Rasul, namun sesungguhnya secara diam-diam, mereka menahan sebagian uang hasil penjualan tanah untuk kepentingan mereka sendiri.
Walaupun begitu rapinya mereka menyembunyikan ketidakjujuran dengan berpura-pura jujur untuk mengelabui Jemaat dan para Rasul, namun mereka tidak mampu mengelabui Tuhan. Akhirnya, ketidakjujuran mereka terbongkar juga. Sayangnya, mereka tidak diberikan kesempatan untuk mengakui kekeliruan dan bertobat, karena kematian begitu cepat menjemput mereka.
Hal ini mengingatkan kita bahwa serapi-rapinya kita menyembunyikan ketidakjujuran dengan berpura-pura jujur, itu tidak bisa mengelabui Tuhan.  Karena mata Tuhan jelas melihat kebohongan di hati manusia. Karena itu, janganlah “bermain-main” dengan ketidakjujuran tetapi jujurlah terhadap manusia apalagi Tuhan. Wujudkanlah kejujuran dalam mengelola setiap berkat Tuhan. Bila Allah menghadirkan berkat-Nya dalam hidup kita, akuilah itu dengan jujur. Berilah pengucapan syukur dan persepuluhan sebagai respon jujur kita kepadaNya.
Memang tiada manusia yang sempurnah. Tetapi jadikanlah kemurahan Tuhan sebagai kesempatan untuk bersikap jujur. Karena kita tidak mampu mengelabui Tuhan dengan kepura-puraan dan ketidakjujuran pasti terbongkar bila saatnya tiba. Amin. (DM)

Read More »

Jemaat Yang Berdoa

0 komentar
Senin, 9 Oktober 2017.
Kisah Para Rasul  4 : 23 - 37
Jemaat Yang Berdoa
Doa yang mujarab bukanlah doa yang dinaikkan hanya oleh orang dengan jabatan tertentu dalam jemaat, melainkan doa yang penuh kesungguhan dan keyakinan.
Bacaan ini berbicara tentang keterlibatan jemaat dalam berdoa dan dampak yang dihasilkannya. Tekanan dan ancaman terhadap kekristenan, mendorong jemaat Tuhan untuk berdoa (23, 24). Mereka meminta Tuhan memperlengkapi mereka dengan kemampuan untuk melaksanakan tugas pelayanan di tengah ancaman (29, 30). Doa mereka dikabulkan Tuhan. Mereka semua dipenuhi Roh Kudus dan mulai memberitakan Firman dengan berani (31). Dengan kuasa yang besar Para Rasul bersaksi tentang kebangkitan Tuhan Yesus (33). Dengan iman dan keiklasan seluruh jemaat mempersembahkan harta  mereka untuk mendukung pekerjaan Tuhan. Yang mempunyai ladang menjualnya dan uangnya diserahkan di depan kaki para rasul (37). Gerakan pertumbuhan dan kemandirian jemaat sementara terjadi.
Ini menunjukkan, keterlibatan seluruh jemaat untuk berdoa sungguh-sungguh telah memberi dampak besar. Para rasul mendapatkan kemampuan prima dalam pelayanan,  seluruh jemaat sanggup mendukung pelayanan dengan harta dan mereka semua merasakan damai sejahtera Tuhan.
Hal ini mengingatkan kita bahwa, doa yang mujarab bukanlah doa yang dinaikkan hanya oleh seseorang dengan jabatan tertentu dalam jemaat saja, melainkan doa yang dinaikkan semua anggota jemaat dengan kesungguhan iman. Keterlibatan anggota jemaat untuk berdoa bagi Gembala dan Majelis Jemaat, Majelis Resort dan Majelis Sinode, bahkan bagi pelayanan gereja, akan memberi dampak besar bagi kemajuan pelayanan. Karena itu berdoalah untuk pekerjaan Tuhan. Jadikanlah diri kita jemaat yang berdoa. Maka mata kita sendiri akan melihat gerakan pertumbuhan dan kemandirian, nyata dalam jemaat-jemaat kita. Amin.  (DM)

Read More »

Keberanian Menghadapi Tantangan dan ancaman

0 komentar
Sabtu, 7 Oktober 2017
Kisah Para Pasul 4:1-22
Keberanian Menghadapi Tantangan  dan ancaman
Sesudah peristiwa Pentakosta atau pencurahan Roh Kudus maka para Rasul semakin berani untuk memberitakan Injil. Petrus dan Yohanes  kembali mengajar  orang banyak seperti yang biasanya dilakukan ketika Yesus masih bersama dengan mereka. Dalam kesempatan ini Petrus dan Yohanes mengajarkan tentang adanya kebangkitan orang mati. Bahwa barang siapa yang percaya kepada Yesus Kristus akan mengalami kebangkitan walaupun ia sudah mati(ayat 2). Sebab Yesus sendiri telah mengalami kematian dan Ia bangkit pada hari yang ketiga.
Namun untuk pengajaran tersebut Petrus dan Yohanes harus berhadapan dan berurusan dengan imam-imam kepala,  pengawal bait Allah dan orang Saduki. Tujuan kedatangan mereka semata-mata untuk menangkap para rasul tersebut supaya dijebloskan kedalam tahanan/penjara. Bahkan mereka berdua disuruh untuk diam/tutup mulut dan dilarang mengajar dalam nama Yesus. Hal ini disebabkan karena para “musuh” Yesus merasa tersaingi oleh Simon Pertus dan Yohanes, sehingga mereka perlu bekerja sama dengan orang Saduki yang tidak mempercayai adanya kebangkitan orang mati untuk membungkam para Rasul.
Tugas memberitakan kabar baik untuk orang yang belum percaya tidak gampang dan mudah. Selalu akan kita temui tantangan baik dari dalam diri maupun dari luar. Bahkan yang lebih besar yaitu sampai mengancam nyawa dan keselamatan .
Namun demikian dalam menghadapi semua itu sebagai orang percaya kita tidak perlu takut. Karena Tuhan tidak pernah meninggalkan kita sendirian. Sebab Roh Kudus yang dicurahkan pasti memberikan kita keberanian, kekuatan serta kemampuan untuk menjalani kehidupan. Hal ini dapat kita lihat dari apa yang dilakukan Simon Petrus dan Yohanes ketika mereka ditanya dengan kuasa apakah kamu berbuat demikian? Mereka dengan penuh Roh menjawab dalam nama Yesus Kristus orang Nazaret yang telah kamu salibkan itu. Kita dapat melihat keberanian yang luar biasa dalam melawan para imam. Mereka yang tadinya takut kini  penuh Roh Kudus, justru keberanian untuk bersaksi tentang kuasa kebangkitan Yesus.Amin. (FN)

Read More »

Memberikan yang Terbaik

0 komentar
Jumat, 6 Oktober 2017
Kisah Para Rasul 3:1-10
“Memberikan yang Terbaik”
Seorang presiden Amerika yang sangat terkenal J.F. Kennedy pernah mengatakan bahwa “Jangan tanya apa yang diberikan oleh negara buat kamu, tapi apa yang dapat kamu berikan untuk negaramu”. Ucapan yang sangat heroik untuk bangsa Amerika yang menyebabkan bangsa ini terpacu dan berlomba-lomba untuk memberikan apa saja yang dimilikinya, kepintaran, bela bangsa atau apapun demi kemajuan bangsa Amerika. Mengutip ucapan tersebut dengan sedikit merubah : “jangan tanya apa yang diberikan oleh Tuhan buat kamu, tapi apa yang dapat kamu berikan untuk Tuhan.”
Kisah Para Rasul merupakan kitab yang menunjukkan bahwa pengalaman gereja mula-mula benar-benar terjadi tepat seperti yang Yesus firmankan sebelum terangkat ke sorga: “Kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem, ... sampai ke ujung dunia” (Kis. 1:8). Jadi, semua tindakan para rasul dan jemaat waktu itu adalah dalam rangka menjadi saksi Kristus, melalui tindakan mujizat maupun tindakan yang tampaknya biasa-biasa saja. Seperti tindakan Rasul Petrus.
Rasul Petrus pasti tidak berbohong ketika ia mengaku tidak membawa uang, dan jelas bahwa uang bukan satu-satunya kebutuhan pengemis yang lumpuh tersebut. Yang luar biasa dalam kisah ini bukanlah pada fakta bahwa Petrus memiliki karunia mukjizat, melainkan pada fakta bahwa Petrus memberikan apa yang ia miliki pada saat itu untuk menjamah hidup orang lumpuh tersebut. Tuhan memakai sentuhan Petrus yang disertai iman untuk menyaksikan kuasa-Nya (6).
Setiap hari kita berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki beragam kebutuhan. Lalu apa yang dapat kita berikan? Mari memohon hikmat dan kreativitas untuk membagikan apa yang kita punyai sesuai kebutuhan orang-orang yang membutuhkan. Apapun perbuatan atau pemberian kita (uang, nasi bungkus, baju layak pakai, perkunjungan, mobil jemputan, telinga yang mendengar, kata-kata yang menghibur, sentuhan kasih, keterampilan medis, dll.), ketika dilakukan demi dan bagi Kristus, dapat dipakai Tuhan untuk membawa banyak orang takjub akan Dia dan membuka hati untuk mendengarkan Kabar Baik-Nya. (IW)

Read More »

Beritakan, Yesuslah Tuhan

0 komentar
Kamis, 5 Oktober 2017
Kisah Para Rasul 2:14-40
Beritakan, Yesuslah Tuhan!
Pernahkah terfikirkan oleh kita, seberapa sering kita menyatakan bahwa Yesuslah Tuhan? Bahwa Yesuslah satu-satunya Juruselamat atas kehidupan ini? Atau mungkin sebaliknya kita malu mengakui Yesus itu Tuhan kepada teman karib atau keluarga yang tidak seiman? Seberapa sering kita menyangkal Yesus? Bukankah Yesus secara tegas dan terus terang mengatakan; “Setiap orang yang mengakui aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang disorga”(Mat. 10:32).
Ketika sindiran “mereka mabuk” tertuju kepada murid-murid yang dipenuhi oleh Roh Allah (33), Petrus yang pada dasarnya memiliki sifat yang proaktif berdiri menyatakan bahwa mereka tidak mabuk, melainkan kembali mengutip apa yang difirmankan Allah melalui perantara nabi Yoel, bahwa Allah akan mencurahkan Roh-Nya kepada semua manusia (16-21). Petrus dengan berani mengecam orang Yahudi dan semua orang yang tinggal di Yerusalem dengan menegaskan bahwa Yesus yang ditentukan Allah dan diserahkan menurut maksud dan rencana-Nya telah dibunuh oleh tangan mereka sendiri.
Untuk menguatkan kesaksian pemberitaan, Petrus menunjukkan bahwa merekalah saksi dari kematian dan kebangkitan Kristus itu (31-32). Akhirnya melalui kesaksian yang disampaikan oleh Petrus dan kawan-kawannya, ada banyak orang bertobat dan memberi dirinya dibaptis. Pada dasarnya Petrus dan rekan-rekannya sudah ditetapkan sebagai murid pertama Yesus. Itulah yang membuat mereka berani menyatakan bahwa merekalah saksi dari semua hal itu.
Kunci dari keberanian para murid atau Petrus secara khusus yaitu ketika mereka memberi diri dipakai oleh Roh Kudus sepenuhnya untuk menunjukkan bahwa Yesuslah Tuhan. Hal yang sama juga dapat terjadi dalam kehidupan kita. Ketika kita membuka hati dan menyerahkan hidup sepenuhnya dipakai oleh Roh Tuhan secara dasyat untuk kemuliaan-Nya, maka  Tuhan juga akan memperlengkapi kita dengan baik.
Sebagaimana para murid yang menerima kekuatan, hal yang sama juga akan menjadi bagian dalam hidup kita. Nyatakan dan beritakanlah kepada dunia bahwa Yesuslah Tuhan! Yesus satu-satunya jalan kebenaran yang membawa kepada kehidupan kekal. (Mar)

Read More »